Oleh : Vebriyanthie Orcheva (Pemerhati Media Sosial)
Beberapa waktu belakangan ini masyarakat ramai membicarakan rencana pengadaaan mobil dinas mewah untuk Gubernur Kalimantan Timur senilai sekitar Rp.8,5 M. Tentu saja rencana ini menuai kritik panjang dari masyarakat hingga berujung dengan pembatalan. Pemerintah provinsi kemudian memutuskan untuk mengembalikan mobil tersebut setelah muncul berbagai sorotan di masyarakat dan juga berbagai masukan dari banyak pihak.
Keputusan untuk membatalkan rencana tersebut patut diapresiasi. Yang artinya suara rakyat masih didengar. Jujur saja, banyak yang merasa ada sesuatu yang mengganjal. Di tengah berbagai kebijakan efisiensi anggaran, kondisi jalanan yang buruk, serta kondisi masyarakat yang masih harus berjuang mati-matian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, terlebih di bulan Ramadhan ini. Rencana membeli mobil dinas dengan harga yang fantastis terasa sangat kontras dengan realitas masyarakatnya. Alasannya ketika itu adalah untuk menjaga marwah daerah. Terlebih lagi Kalimantan Timur saat ini telah menjadi daerah penting karena adanya Ibukota Nusantara. Pertanyaan sederhananya adalah, apakah marwah suatu daerah itu diukur dengan sebuah mobil mewah?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bukankah marwah suatu daerah itu tercermin dari kehidupan rakyatnya yang sejahtera? Jalanan yang layak, sarana pendidikan dan kesehatan yang memadai? Masalah seperti ini sebenarnya bukan hanya sekedar mobil dinas semata. Ini merupakan salah satu gambaran kecil dari berbagai problematika yang besar.
Saat ini kita hidup dalam sistem kapitalisme sekuler, dimana sistem ini memisahkan agama dari kehidupan. Dalam sistem ini jabatan selalunya dipandang sebagai sebuah posisi yang memegang tampuk kekuasaan, bukan amanah pelayanan kepada rakyat. Fasilitas yang penuh dengan kemewahan dianggap sesuatu yang wajar. Rumah dinas yang besar, kendaraan yang mahal, dan berbagai hal lainnya yang dianggap bagian dari hak jabatan. Lambat laun kepekaan terhadap penderitaan rakyat menjadi tumpul. Lebih dari itu, agama hanya ditempatkan dalam ruang ibadah semata. Iman tidak lagi menjadi pengawas utama para penguasa. Yang ditakuti bukan lagi pertanggung jawaban di hadapan Allah SWT, tetapi takut akan kritikan masyarakat dan sorotan media.
Sejatinya dalam Islam, seorang pemimpin bukanlah penguasa yang harus dilayani, melainkan adalah pelayan bagi rakyatnya. Rasulullah SAW bersabda: “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini sederhana, namun maknanya sangat dalam. Kepemimpinan dalam Islam bukan bukan hanya soal mewahnya fasilitas yang didapat, namun soal tanggung jawab besar terhadap kehidupan rakyat yang dipimpinnya.
Sejarah Islam telah memberikan contoh nyata bagaimana seorang pemimpin seharusnya bersikap. Salah satu teladan paling terkenal adalah Khalifah Umar bin Khaththab ra. Beliau memimpin wilayah Islam yang sangat luas, namun kehidupannya justru jauh dari kemewahan.
Ada kisah yang sangat menyentuh tentang beliau. Suatu malam, anaknya Abdullah bin Umar datang untuk berbincang mengenai urusan keluarga. Saat itu Umar sedang bekerja menggunakan lampu yang dibiayai oleh negara. Ketika pembicaraan mulai mengarah ke urusan pribadi, Umar segera mematikan lampu tersebut. Ia menjelaskan bahwa lampu itu adalah fasilitas negara sehingga tidak pantas digunakan untuk urusan keluarga.
bahkan makanan Umar seringkali hanya sepotong roti kasar dengan minyak zaitun. Kadang beliau makan roti keras sampai perutnya berbunyi karena rasa lapar. Namun kesederhanaan itu tidak membuat kehormatan kepemimpinannya berkurang. Justru sebaliknya, dari situlah lahir wibawa seorang pemimpin sejati. Padahal jika beliau ingin hidup mewah, tentu saja sangat mudah bagi seorang pemimpin negara.
Dari kisah ini kita bisa belajar sesuatu yang sangat penting. Marwah seorang pemimpin tidak lahir dari sebuah mobil mewah, rumah yang besar dan megah, ataupun segala fasilitas yang mahal. Marwah lahir dari keadilan, amanah yang ditunaikan, dan rasa takut kepada Allah. Karena itu solusi atas berbagai problematika kepemimpinan hari ini bukan hanya sekedar mengganti figur, tetapi mengembalikan kepemimpinan kepada nilai-nilai Islam.
Islam tidak hanya mengajarkan moral pribadi saja, tetapi juga menjadi sebuah sistem kehidupan yang membentuk pemimpin agar benar-benar amanah, dalam sistem pemerintahan Islam, pemimpin dipilih untuk mengurus urusan rakyatnya dengan hukum Allah, bukan untuk menikmatyi segala fasilitas yang mewah. Ketika iman menjadi pondasi dan syariat menjadi aturan, maka pemimpin akan sadar bahwa setiap harta negara akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT.
Teladan Umar bin Khaththab menunjukkan bahwa kesederhanaan bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kekuatan iman. Jabatan bukan alasan untuk hidup bermewah-mewahan dan kekayaan bukanlah ukuran sebuah kemuliaan. Pemimpin sejati adalah mereka yang paling takut kepada Allah. Karena hati yang benar-benar dekat denganNya tidak akan mudah terpesona dengan gemerlapnya dunia.





























